
hw-remosaic: 0;
touch: (-1.0, -1.0);
modeInfo: ;
Bu Neni adalah seorang penjaga koperasi di sebuah sekolah dasar. Sudah beberapa kali dia melihat seorang murid yang mengambil jajanan di koperasi tanpa membayar. Murid tersebut bernama Tono. Tono mula-mula hanya memegang-megang jajanan, begitu penjaga kantin lengah jajanan yang berupa biscuit kemasan itu dimasukkan ke kantong celananya. Selain Bu Neni, penjaga koperasi yang lain yang bernama Bu Imah juga beberapa kali melihat kelakuan Tono.
Seorang guru yang bernama Pak Budi juga sering melihat Tono memegang-megang biskuit, padahal dia tidak mau membeli. Pak Budi menasehati Tono agar tidak memegang-megang biskuit karena nanti kemasannya menjadi tidak menarik. Kalau mau membeli segera mengambil yang mau dibeli danĀ membayar
Sebetulnya sudah lama Bu Neni ingin melaporkan hal ini kepada Pak Joni, wali kelas Tono, namun tertunda terus.
Karena peristiwa tersebut terus berulang, maka Bu Neni menyempatkan melaporkan hal ini. Mendengar laporan Bu Neni, Pak Tono tidak begitu kaget karena menurut pengamatannya sehari-hari, Tono adalah seorang murid yang sangat kurang dalam attitude.
Sejak sebelum menjadi wali kelas Tono, Pak Joni sudah merasa prihatin dengan sikap-sikap Tono.
Pak Joni tidak memanggil Tono ke kantor untuk menanyakan kebenaran peristiwa itu. Saat istirahat Pak Joni sengaja berada di kelas dan duduk di kursinya yang berada di depan kelas. Ketika Tono melintas di dekat tempat duduknya, Pak Joni pun mengajak Tono ngobrol. Hal ini dilakukan oleh Pak Joni agar teman-teman sekelas Tono tidak curiga dan bertanya-tanya tentang masalah yang sedang terjadi pada Tono.
Mula-mula Pak Joni mengobrol hal-hal yang ringan, tentang makanan yang disukai oleh Tono. Dengan sangat berhati-hati Pak Joni bertanya kepada Tono apakah dia pernah mengambil jajanan di koperasi dan tidak membayar. Tono tidak mengakui. Pak Joni sudah menduga bahwa Tono pasti tidak akan mengakui. Jangankan peristiwa yang sudah beberapa hari berlalu, terhadap perbuatan salah yang baru saja dilakukan dan banyak saksi yang melihat pun, Tono selalu mengelak dengan berkata tidak, bukan aku.
Pak Joni tidak marah, namun dia masih terus berfikir dengan cara bagaimana agar Tono mau mengakui perbuatannya. Pak Joni kemudian menyebut kelebihan Tono, bahwa Tono adalah murid yang paling bagus dalam membaca Alqur’an di tingkat kelasnya. Tidak hanya itu, Tono juga seorang murid yang paling banyak hafalan surat-surat dalam Alqur’an. Pak Budi juga menyampaikan kata Rasulullah SAW bahwa sekecil apa pun makanan haram yang masuk ke perut, maka akan berubah menjadi api neraka.
Sudah berpanjang lebar Pak Joni berkata, namun Tono masih tetap bungkam. Pak Joni kemudian berkata bahwa seberapa pun banyak jajanan yang telah diambil oleh Tono, dia yang akan membayar, agar makanan tersebut menjadi halal. Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Pak Joni, Tono tiba-tiba berkata,” Iya….Pak, tetapi jangan bilang ibuku, ya!” Pak Joni senang sekaligus kaget mendengar ucapan Tono. Dia kemudian memastikan lagi jawaban Tono serta menanyakan sudah berapa kali dan jajanan apa yang telah diambil oleh Tono.
Tono menjawab bahwa dia sudah mengambil sebanyak dua kali dan jumlah harga makanan sebesar Rp.4000;. Memang uang Rp 4.000; adalah tidak seberapa, namun ini adalah masalah perilaku dan tabiat anak, maka tetap harus ditindaklanjuti. Pak Joni kemudian menanyakan mengapa Tono melakukan hal itu. Tono menjawab bahwa dia sangat ingin jajan tetapi tidak punya uang. Pak Joni memberi nasehat kepada Tono bahwa manusia itu harus berlatih menahan diri karena tidak semua keinginannya terpenuhi dan harus terpenuhi.
Dalam kesempatan berbincang itu Pak Joni memberikan banyak nasihat, namun tidak memojokkan Tono. Tono pun tampak merasa nyaman karena tidak ada satu orang pun temannya yang mengetahui tentang perilakunya. Pak Joni meminta agar Tono beristighfar dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi.
Bel berbunyi, tidak terasa waktu istirahat sudah habis. Tono dan teman-temannya kembali mengikuti pelajaran selanjutnya. Pak Joni menepati janjinya, dia segera ke koperasi untuk membayar dua biscuit yang telah diambil dan dimakan oleh Tono.
Pak Joni juga akan menepati janjinya yang lain kepada Tono yaitu tidak akan menceritaksn peristiwa ini kepada ibunya. Pak Joni memiliki prinsip bahwa berjanji kepada siapa pun harus ditepati.
Dua pekan setelah peristiwa itu Pak Joni bertanya kepada Bu Neni apakah Tono masih sering mengambil jajanan tanpa membayar. Bu Neni menjawab bahwa Tono sekarang sudah tidak pernah datang koperasi saat bukan jadwal jajan kelasnya dan kalau jajan dia pasti membayar.
Mendengar jawaban Bu Neni , Pak Joni merasa senang dan sangat bersyukur. Dia merasa bahwa sikap yang dilakukannya adalah sudah tepat. Tidak dalam setiap masalah yang melibatkan anak di sekolah harus segera dilaporkan kepada orang tua. Pak Joni juga semakin yakin bahwa kasih sayang, perhatian, dan menjaga harga diri anak adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh guru dan orang tua.
——-
Tri Mulyani
Boyolali, 17 Februari 2025
! 18 Sya’ban 1446