
Tetiba kemarin pagi di sekolah setelah upacara HUT RI ke-77 saya mengingat nama Sitiung. Sitiung adalah sebuah tempat di Sumatera Barat yang menjadi lokasi transmigrasi bedol desa penduduk Kabupaten Wonogiri. Sitiung juga merupakan sebuah judul buku cerita yang saya baca ketika saya masih SD. Buku itu menceritakan bahwa ada seorang kakek yang tidak mau berpindah tempat tinggal ke Sitiung karena kakek tersebut mengingat banyak leluhurnya yang dimakamkan di Wonogiri.
Karena semua anggota keluarga sudah setuju untuk pindah ke Sitiung, hanya tinggal kakek tersebut maka anggota keluarga yang lain membuat skenario. Salah satu anak mereka disuruh berpura-pura kesurupan dan yang masuk ke dalam badan anak tersebut adalah arwah dari para leluhur sang kakek. Leluhur itu mengatakan kepada sang kakek bahwa mereka akan lebih senang apabila kakek tersebut mau mengikuti program pemerintah yaitu bertransmigrasi bedhol desa.
Sekarang di zaman digital ini, putri dari salah satu warga yang ikut bertransmigrasi bedhol desa pada tahun 1974 itu ada di hadapan saya, namanya Kurnia Lathifah. Dia berada di SD MPU Colomadu bersama 5 temannya dalam program PLP 2 Mahasiswa PGSD UMS dan saya adalah sebagai guru pamongnya. Kurnia Lathifah yang biasa disapa Lala ini bercerita bahwa saat ikut bertransmigrasi, orangtuanya baru duduk di kelas 2 SD
Kurnia Lathifah adalah gadis suku Jawa kelahiran Sitiung, Sumatra Barat ini telah membuka memori saya. Memori tentang kisah di balik pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Mega proyek di era pemerintahan Presiden Suharto ini mewajibkan warga di 16 kecamatan harus bertransmigrasi ke Sitiung, Transmigrasi Bedhol Desa.
———
Tri Mulyani
Guru SD MPU Colomadu
Waduk Cengklik, 21 Muharam 1444
18 Agustus 2022