
Dokumen trimulyani
Perilaku membuang sampah sembarangan di masyarakat Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Tepi jalan, sungai, dan lahan kosong milik warga adalah beberapa tempat yang sering menjadi sasaran sebagai tempat pembuangan sampah. Ada lagi perilaku yang lebih memprihatinkan yaitu menjadikan makam sebagai tempat membuang sampah.
Meskipun jasad-jasad yang berada di dalam tanah telah hancur, namun menjaga kebersihan makam adalah salah satu tanda menghormati dan menghargai saudara, keluarga, atau pun tetangga yang telah meninggal. Menjadikan makam sebagai tempat pembuangan sampah adalah sangat tidak terpuji.
Untuk para warga yang peduli dengan lingkungan, perilaku membuang sampah sembarangan adalah hal yang sangat menjengkelkan. Berbagai peringatan baik dengan bahasa halus, kasar, maupun sedikit ancaman sudah banyak dilakukan namun faktanya peringatan tersebut tidak dapat menghentikan perilaku membuang sampah sembarangan.
Foto di atas adalah poster larangan membuang sampah di sebuah kampung di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Poster tersebut mengespresikan kemarahan warga kepada para pembuang sampah di makam. Poster peringatan berbahasa Jawa tersebut jika dalam bahasa Indonesia berarti, Jika nekat membuang sampah di makam, kamu akan dicekik oleh makhluk halus. Mati Kamu!!

Foto: Dokumen Tri Mulyani
Sebagian besar orang menganggap bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak berharga, bahkan dianggap sesuatu yang menjijikkan. Sampah cenderung menjadi sebuah masalah, namun untuk sebagian orang yang telaten dan konsisten, dari sampah masih ada rupiyah. Sampah menjadi sesuatu yang menjijikkan karena biasanya selalu dicampur antara sampah organik dan anorganik, antara sampah basah dan sampah kering.
Sampah organik yang berupa sisa makanan, buah, sayur dan jenis bahan yang dapat membusuk dapat diolah menjadi pupuk POC. Sementara sampah anorganik dapat dikelola dengan didaur ulang di pabrik. Untuk mengumpulkan sampah-sampah anorganik diperlukan kepedulian masyarakat. Salah satu kegiatan pilah sampah telah dirintis sejak tahun 2016 oleh warga Gonilan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah. Saat ini Kelompok Swadaya Masyarakat( KSM ) ini membimbing dan membawahi kelompok pilah sampah yang tersebar di Kabupaten Karanganyar dan Boyolali sebanyak 43 kelompok.
Selain kegiatan pilah sampah, para tukang rosok yang membeli barang bekas atau sampah anorganik di kampung juga berperan dalam mengurangi pencemaran. Ada perbedaan kegiatan pilah sampah dan tukang rosok. Kalau tukang rosok hanya membeli barang bekas atau sampah yang bernilai jual tinggi, sedangkan Kelompok pilah sampah menerima hampir semua jenis sampah.
Sampah yang berasal dari bahan plastiK, kaca, logam, dan kertas semua diterima. Sampah dari bahan plastik ada banyak jenisnya, ada kantong plastik tali raffia, bekas mantel atau jas hujan, selang. botol bekas air mineral, botol bekas kosmetik, bekas tube pasta gigi, tutup galon air, tutup botol plastik, ember plastik bekas, dan botol bekas kemasan minuman dan masih banyak jenis yang lain.
Selain sampah plastik, ada pula sampah jenis logam dan kaca. Apa yang terjadi jika sampah-sampah tersebut dibuang sembarangan? Selain merusak pemandangan, sampah tersebut akan mengakibatkan pencemaran tanah sehingga tanah hilang kesuburannya. Jika sampah dibakar akan mencemari udara di sekitar. Pembakaran sampah dapat menghasilkan gas rumah kaca, seperti CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik. Gas Rumah Kaca dapat menyebabkan efek rumah kaca penyebab pemanasan global.
Kegiatan Pilah Sampah Dusun Plosorejo Foto: Dokumen Tri Mulyani
Dua dari 43 kelompok pilah Sampah binaan KSM Gonilan adalah Kelompok Pilah Sampah Dusun Pepe, Desa Gedongan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar dan Kelompok Pilah Sampah Dusun Plosorejo Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah adalah kelompok pilah Sampah yang mempunyai slogan Pilah Sampah Nabung Emas. Dari uang penjualan sampah- sampah anorganik yang telah dipilah sesuai jenisnya, dapat dibelikan emas dengan kepingan kecil yang disebut minigold. Kepingan Minigold ini dapat dibeli dengan harga yang sangat terjangkau yaitu Rp.40 .000 untuk kepingan 0,025 gr. Kelompok Pilah sampah ini telah memulai kegiatan pada tahun 2020.
รค
Kegiatan Pilah Sampah Dusun Pepe
Foto: Dokumen Tri Mulyani
Kesadaran menjaga alam dan lingkungan dari pencemaran sampah memang tidak dimiliki oleh setiap orang. Padahal sebenarnya hampir dapat dipastikan setiap orang senang dengan lingkungan yang bersih, rapi, dan indah. Perbuatan yang baik memang sering tidak diikuti oleh banyak orang, namun perbuatan yang tidak baik, tanpa disuruh pun pasti akan diikuti oleh banyak orang.
Sebagai contoh, ada seorang pengendara sepeda motor membuang satu kantong plastik sampah di tepi jalan. Beberapa pekan kemudian tepi jalan tersebut sudah penuh dengan sampah. Sangat berbeda ketika ada ajakan untuk memilah sampah. Ada saja alasan warga untuk menolaknya, ada yang mengatakan tidak telaten, ada pula yang mengatakan tidak mau rumahnya ada tampungan sampah, meskipun sementara.
Program memilah sampah adalah ajakan kepada para para warga untuk memilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik dianjurkan untuk tidak dibuang sembarangan atau pun dibakar. Sampah-sampah anorganik ini sebulan sekali ditimbang dan dibeli oleh pengepul sampah.
Masyarakat penduduk dusun Pepe RT 02/09 Gedongan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah adalah warga yang memunyai kepedulian terhadap lingkungan. Para warga telah memulai kegiatan pilah sampah pada tahun 2020. Di awal merintis kegiataan ini hanya beberapa warga yang berminat mengikuti kegiatan ini. Kebanyakan alasan mereka adalah tidak telaten dan tidak mau ada sampah terlalu banyak di rumah, meskipun sampah tersebut kering.
Seiring waktu berjalan dan didukung oleh kemajuan sosial media kegiatan ini dikenal oleh warga lain RT dan lain kampung. Beberapa warga yang berminat pun ikut bergabung. Satu tahun kemudian warga penduduk kampung Plosorejo, Kelurahan Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali pun tertarik dengan kegiatan pilah sampah. Mereka mengikuti jejak warga Kampung Pepe. Di awal merintis kegiatan ini, warga yang berminat hanya 7 orang. Saat ini jumlah nasabah (warga yang menyetor sampah berjumah 25 orang). Pencapaian jumlah nasabah 25 orang dalam rentang dua tahun adalah kecil, namun peru disyukuri bahwa hal itu menunjukkan peningkatan.
Para warga yang konsisten menyetor sampah mengatakan bahwa saat ini mereka sudah terbiasa memilah sampah di rumah. Mereka mengatakan ada rasa tidak nyaman jika membuang sampah sembarangan atau mencampur aduk sampah. Tujuan mereka tidak semata- mata mengejar uang namun mereka menginginkan agar lingkungan dan alam temat tinggal mereka bersih. Kegiatan yang dilakukan oleh para warga yang tergabung dalam kegiatan pilah sampah merupakan sebuah bukti bahwa mereka sangat mencintai alam.
Tri Mulyani
Boyolali, 28 Mei 2023
Dokumen Tri Mulyani
Dokumen Tri Mulyani
Dokumen Tri Mulyani