
Ki Ageng Pandanaran adalah sebuah nama yang mungkin sangat asing untuk generasi muda, generasi Z dan Alfa. Hal ini sangat dapat dimaklumi karena pelajaran sejarah saat ini dihapus dari kurikulum pendidikan kita. Sangat disayangkan jika ada sebuah buku pelajaran yang menulis sejarah Ki Ageng Pandanaran dalam kategori cerita legenda, padahal beliau adalah seorang tokoh yang benar-benar ada, bukan tokoh imajinasi dalam sebuah dongeng.
Penulis sendiri mengenal nama Ki Ageng Pandanaran adalah saat masih duduk di Sekolah Dasar. Di dalam buku pelajaran Mata Angin, di situ ada kisah Ki Ageng Pandanaran yang sedang dalam perjalanan dari Semarang menuju Gunung Jabalakat. Di tengah perjalanan dihadang oleh dua orang perampok. Semenjak lulus SD, penulis tidak lagi menjumpai nama Ki Ageng Pandanaran pada tahap sekolah selanjutnya.
Setelah lebih dari empat dasa warsa, penulis menjumpai lagi nama Ki Ageng Pandanaran saat mengajar bahasa Jawa di sebuah Sekolah Dasar swasta di Wilayah Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Di dalam buku tersebut tertulis bahwa sejarah Ki Ageng Pandanaran dikategorikan sebagai sebuah cerita legenda. Legenda adalah sebuah dongeng asal-usul nama sebuah tempat.
Memang di dalam sejarah Ki Ageng Pandanaran ada peristiwa pemberian nama beberapa tempat, diantaranya adalah kota Salatiga, Kota Boyolali, dan Kecamatan Wedi, serta Desa Jiwoh. Ketika dua perampok itu sudah mengambil tongkat berisi emas yang dibawa oleh istri Ki Ageng Pandanaran, mereka masih juga ingin meminta bekal yang dibawa oleh Ki Ageng Pandanaran. Menyaksikan hal ini Ki Ageng Pandanaran mengatakan dalam bahasa Jawa,” Wis salah kok isih tega” ( perbuatan sudah salah, masih juga tega mengambil bekal makanan dan minuman). Ada kata salah dan tega, maka di kemudian hari nama tempat ini disebut Salatiga.
Saat berjalan menuju Bukit Jabalakat, Ki Ageng Pandanaran langkahnya cepat sehingga istrinya tertinggal jauh di belakang. Karena tertinggal, istrinya berteriak-teriak,” Kang Mas….! karo bojo mbok, ojo lali,” ( Suamiku…..! dengan istri jangan lupa!)
Ada frase Mbok Ojo lali, tempat ini di kemudian hari menjadi Boyolali.
Wedi, sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten diberi nama karena sebuah peristiwa. Ada seorang perempuan yang menggendong beras, Ki Ageng Pandanaran bertanya,” Mbok, sampeyan nggendhong apa?” Namung Wedi,” jawab perempuan tersebut ( “Bu…, kamu menggendong apa,” ” Hanya pasir.”) Setelah menjawab, perempuan tadi merasa bahwa gendongannya terasa makin berat. Dia kemudian melihat isi gendongannya.Ternyata berasnya telah berubah menjadi pasir. Pasir dalam bahasa Jawa adalah Wedi. Ibu itu berbohong karena takut berasnya diminta oleh Ki Ageng Pandanaran.
Sedangkan nama dusun Jiwoh, berkenaan dengan peristiwa saat Ki Ageng Pandanaran merasa haus dan kehabisan bekal minun, beliau meminta timun kepada seorang petani, namun petani ini mengatakan bahwa pohonnya belum berbuah. Ternyata Ki Ageng Pandanaran melihat ada satu buah timun di pohon milik petani tersebut. Berbuah satu dalam bahasa jawa adalah awoh siji atau siji awoh. Jiwoh adalah akronim dari siji awoh.
Peristiwa-peristiwa tidak masuk akal yang terjadi sepanjang perjalanan Ki Ageng Pandanaran, mungkin menjadi alasan orang menganggap bahwa sejarah Ki Ageng Pandanaran adalah sebuah dongeng. Mengenai peristiwa-peristiwa aneh, kepala perampok yang tiba-tiba berubah menjadi kepala domba dan yang satu berubah menjadi kepala ular karena ucapan Ki Pandanaran, penulis berpendapat bahwa semua itu adalah karomah dari Allah Swt kepada Ki Ageng Pandanaran. Karomah adalah sebuah peristiwa di luar nalar manusia yang dapat terjadi atas izin Allah Swt yang diberikan kepada para Waliyullah. Sedangkan jika diberikan kepada para nabi maka hal ini disebut mukjizat.
Meskipun bukan termasuk salah satu dari Wali Songo, namun Ki Ageng Pandanaran adalah salah satu murid yang sangat dekat dengan Sunan Kalijaga. Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Jabalakat untuk melakukan tobat atas perintah Kanjeng Sunan Kalijaga, peristiwa-peristiwa aneh tersebut terjadi.
Kisah Ki Ageng Pandanaran harus diluruskan bahwa memang ini adalah sebuah peristiwa sejarah. Para generasi muda harus dipahamkan mengenai hal ini. Di dalam sejarah ada banyak pelajaran untuk generasi selanjutnya. Tidak rakus terhadap dunia, berlaku jujur, dan jika menjadi pemimpin harus amanah, memikirkan rakyat kecil adalah beberapa nilai luhur yang dapat kita contoh dalam sejarah ini.
Referensi tentang Sejarah Ki Ageng Pandanaran yang penulis dapatkan adalah sangat terbatas. Penulis hanya pernah membaca di buku pelajaran Mata Angin saat SD, dan mendengar cerita dari ibu dan nenek penulis. Saat berkunjung di Makam Ki Ageng Pandanaran yang berada di Bukit Tembayat, Dusun Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, penulis mendapat tambahan referensi, meskipun juga masih sangat terbatas.
Di dalam sebuah buku mungil yang tidak dicantumkan nama penulisnya tertulis sejarah Ki Ageng Pandanaran dan silsilahnya. Penulis buku tersebut hanya mencatumkan tiga referensi yaitu Buku berjudul Bayat dan Ki Ageng Pandanaran oleh Drs. Danu Suprapta dan Drs. Ribut Darma Sutapa, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada , tahun 1973. Referensi kedua adalah Buku Tentang Sunan Pandan Aran II oleh H. Moeljadi,Sd yang diterbitksn oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Dati II Klaten, tanpa ada keterangan tahun terbit. Sedangkan referensi ketiga adalah informasi dari masyarakat setempat
Meskipun referensi tentang sejarah Ki Ageng Pandanaran sangat terbatas, namun tugas para orang tua dan guru adalah mengenalkan kepada para generasi muda tentang keberadaan Ki Ageng Pandanaran, seorang tokoh di masa lalu yang sangat pantas dijadikan sebagai tauladan. Kesadaran dan mengenal kesalahan diri, ketakwaan kepada Sang Pencipta, kepatuhan, dan kesetiaan kepada guru adalah karakter-karakter yang harus kita teladani.
——-
Tri Mulyani
Boyolali, 23 September 2025
30 Rabi’ul Awal 1447