JANGAN BERKURANG EMPATI

“Pinarak riyin, Mbah,” kata Mas Agus sambil menyodorkan sebuah kursi kepada Mbah Sumiati. Mas Agus pun bergegas membuatkan roti bakar untuk beliau. Karung besar di punggungnya menyulitkan Mbah Sumiati untuk duduk sehingga Mbah Sumiati tetap berdiri sambil menunggu roti sekesai dibakar.

Mas Agus adalah seorang pedagang roti bakar di tepi jalan dekat dengan kios yang saya kontrak, sedangkan Mbah Sumiati adalah seorang pemulung, pencari botol bekas air mineral. Mbah Sumiyati biasa berangkat menjelang dzuhur dan baru pulang pada sore atau malam hari.

Kondisi Mbah Sumiyati yang sudah sepuh membuat sebagian besar orang yang melihatnya merasa iba.
Sebenarnya kondisi ekonomi dan rumah Mbah Sumiyati tidak memprihatinkan. Rumah Mbah Sumiyati berdinding permanen dan berlantai keramik, meskipun bukan keramik yang mahal. Beberapa anaknya bekerja di Jakarta, meskipun bekerja pada sektor non formal. Saya pernah berkunjung ke rumah beliau bersama anak saya.

Saat itu malam hari pada bulan Syawal dua tahun yang lalu, tahun 2022. Mbah Sumiyati lewat di jalan dan tampak kerepotan membawa barang-barang hasil memulung. Selain menggendong karung besar, dua tangannya masih menenteng karung. Saya kemudian mengajak anak saya untuk membantu membawakan sampai ke rumah Mbah Sumiyati.

Saya membonceng anak saya dengan dua tangan membawa karung yang semula ditenteng oleh Mbah Sumiyati. Karena kami belum menahu rumah Mbah Sumiyati, motor kami berjalan pelan di belakang Mbah Sumiyati. Setelah beberapa saat kami tidak dapat bersabar berkendara mengikuti langkah Mbah Sumiyati.

Akhirnya kami mendahului Mbah Sumiyati dan dalam jarak ratusan meter berhenti untuk menunggu Mbah Sumiyati sampai. Begitu kami melakukan berulang kali sampai akhirnya sampai di rumah Mbah Sumiyati. Rumah Mbah Sumiyati dari tempat kami bertemu sekitar 2 km. Sebuah jarak yang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi sambil menggendong dan menenteng barang bawaan.

Mbah Sumiyati mempersilahkan kami duduk di ruang tamunya. Ada sofa berwarna merah yang sudah usang dan sudah tipis busanya. Di meja tamunya ada sebuah kaleng biskuit merk Khong Guan dan roma kelapa. Kami tidak menahu isinya masih asli atau sudah berganti rengginang atau makanan kampung lain karena kami tidak mencicipinya meskipun Mbah Sumiyati mempersilahkan.

Kami mengobrol sebentar dengan Mbah Sumiyati, kemudian pulang. Setelah sampai di rumah anak saya berkata,”Ibu…, jangan berkurang empatinya kepada Mbah Sumiyati, meskipun rumah Mbah Sumiyati di luar ekspektasi Ibu selama ini.” Saya  tersenyum dalam hati mendengar ucapan anak saya. Alhamdulillah.
——-
Tri Mulyani
Boyolali, 30 Juni 2024

 

 

 

 

 

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *