PUASANYA HEWAN DAN MANUSIA

Mapara adalah akronim dari Matahari Pagi Ramadan, sebuah kajian pagi pada bulan Ramadan yang diprakarsai oleh Profesor Imam Robandi, Ketua Dewan Profesor ITS Surabaya sekaligus founder IRo Society. Pada tahun 2025 atau tahun 1446 H ini, Mapara sudah memasuki tahun ke-4. Kajian ini dilaksanakan secara online via Zoom meeting selama bulan Ramadan dari pukul 05.00 WIB sampai pukul. 06.00 WIB.

Pada Mapara ke-4 ini semua narasumber adalah guru besar dari berbagai universitas di Indonesia. Chair dari Commitee Mapara ke-4 adalah dr. Izzuki Muhashonah, seorang dokter dari Probolinggo Jawa Timur. Beliau bersama timnya telah merancang kegiatan ini dengan sangat baik. Flyer, virtual background, materi, dan penanggung jawab acara harian sudah tertata dengan sangat rapi sampai akhir bulan Ramadan.

 

Mapara ke-4 hari kedua pada hari Ahad, 2 Maret 2025 bertepatan dengan tanggal 2 Ramadan 1446 menghadirkan narasumber seorang Guru Besar IPB, sekaligus ketua umum Asosiasi Profesor Indonesia (API), Profesor Dr.Ir.H. Ari Purbayanto, MSc. Judul materi.kajian adalah Kehidupan Yang Menyatu Dengan Alam untuk Sehat dan Bahagia : Belajar dari Perilaku Hewan dan Ikan.

Prof. Ari memulai paparannya dengan membacakan QS.Al Mulk ayat: 15. Dalam surat tersebut kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk bertadabur dan berinteraksi dengan alam. Prof.Ari menjelaskan bahwa manusia cenderung memanfaatkan alam dan merusaknya sehingga menjadi tidak sehat. Puasa sejatinya akan membentuk manusia menjadi insan baru, insan yang meningkat kualitasnya. Demikian juga dengan puasanya hewan. Beberapa jenis hewan yang melakukan puasa antara lain: ular, ayam, buaya, burung elang, ikan hiu, beruang, capung, katak, onta, dan ulat.

Dalam salah satu slide- Ppt nya, Prof. Ari menampilkan perbandingan antara anatomi tubuh manusia dengan tubuh ikan. Tubuh manusia dipenuhi oleh saraf demikian juga dengan tubuh ikan, namun saraf pada tubuh manusia lebih kompleks, sedangkan saraf pada ikan adalah sangat sederhana. Ikan juga dapat mendengar namun dia tidak dapat memberikan respon. Para ahli belum dapat menemukan apakah ikan itu dapat merespon medan magnet atau tidak dan apakah ikan dapat merasaksn sakit. Masih sedikit penelitian yang membahas tentang hal.itu.

Sementara hewan yang lebih tinggi tingkatannya dari ikan yaitu sapi sudah merasakan sakit. Seekor sapi sudah dapat memberikan respon terhadap.rangsang yang masuk. Prof. Ari memberi anjuran agar sebaiknya saat Idul Adha, sapi-sapi yang sedang menunggu antrian untuk disembelih tidak didekatkan atau jangan sampai melihat temannya yang sedang disembelih. Dalam salah satu kesempatan menyaksikan penyembelihan sapi pada Hari Raya Idul Adha, penulis pernah menyaksiksn seekor sapi yang mengeluarkan air mata. Tidak jauh dari tempat sapi tersebut berdiri, memang sedang berlangsung penyembelihan seekor sapi.

Hewan-hewan memiliki tingkah laku, innate behavior dan acquired behavior, yang termasuk ke dalam innate behavior adalah refleks, taksis, dan insting. Saat mau terjadi gempa bumi, gunung meletus, atau tsunami, hewan-hewan sudah dapat menangkap sinyal tersebut, sehingga mereka gelisah dan keluar dari tempat tinggalnya. Sebenarnya manusia juga memiliki insting tetapi insting hewan lebih kuat. Acquired behavior pada hewan adalah learning, condition refleks, trial and Fault, imprinting, imitation, dan intelegence. Hewan-hewan itu dapat dilatih. Mereka memiliki kemampuan meniru, mengamati, dan menandai. Mereka dapat diajari sebuah ketrampilan, meskipun lama karena IQ nya rendah.

Hewan dan manusia adalah alam atau makhluk ciptaan Allah Swt . Dari semua makhluk ciptaan-Nya, manusia adalah yang paling tinggi tingkatannya, namun derajatnya akan menjadi lebih rendah jika dia tidak mampu mengendalikan nafsunya. Seperti halnya manusia, hewan-hewan pun berpuasa. Puasamya hewan berlangsung secara alami dan tidak disengaja.

Ada bermacam-macam tujuan hewan berpuasa, beberapa di antaranya adalah untuk bertahan hidup di lingkungan yang tidak baik. Puasa ini dilakukan oleh buaya dan beruang dengan hibernasi. Puasa yang dilakukan oleh ular adalah untuk istirahat dan peremajaan fisik. Ular mampu berpuasa selama 21 hari. Setelah kenyang maka ular berganti kulit Hal ini dilakukan untuk menambah panjang dan besar ukuran tubuh.

Seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya dia akan berpuasa sampai telur-telur yang dieraminya menetas. Ayam ini hanya turun sesekali dari tempat pengeraman untuk minum. Energi panas yang dihasilkan oleh tubuh ayam akan membantu perkembangan embrio di dalam telur. Puasa yang dilakukan oleh ayam ini bertujuan untuk kelangsungan generasi.

Puasa yang dilakukan oleh unta adalah untuk mempersiapkan tubuh dalam aktivitas yang lebih berat. Seekor unta mampu berpuasa ketika mengarungi gurun pasir yang panas dan tidak tersedia air, sedangkan puasa yang dilakukan oleh ulat adalah untuk mengubah jati diri menjadi lebih baik. Ulat adalah sangat rakus dalam makanan dan merusak tanaman. Setelah berpuasa, berdiam diri dalam kokon atau kepompong dia menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.

Ulat yang berjalan dengan melata menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan bergerak dengan terbang, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Seekor ikan hiu yang telah memakan mangsa seberat 30 kg dia mampu berpuasa selama 42 hari, bahkan ada ikan hiu yang mampu berpuasa selama 90 hari semakin berat mangsa yang dimakan maka semakin panjang durasi puasanya. Hewan-hewan ternyata memiliki batasan hawa nafsu ketika mereka memperoleh makanan yang sudah cukup untuk bertahan hidup.

Hakikat puasa Ramadan untuk manusia adalah menahan diri dari hawa nafsu dan setelah puasa Ramadan semestinya dapat mengubah jati diri menjadi lebih baik. Pada akhir paparannya Prof Ari memberikan penekanan bahwa sebaiknya puasa kita adalah seperti puasanya burung elang dan puasanya ulat bukan seperti puasanya ular.

Kajian Mapara hari ke-2 ini diikuti oleh seratus participan dari Sabang sampai Merauke. Materinya adalah sangat menarik. Semua partisipan sangat antusias mendengarkan penjelasan Prof. Ari dari awal hingga akhir. Hal ini tampak tidak ada satu pun partisipan yang izin meninggalkan ruang Zoom sampai acara ini ditutup oleh among tamu, dr. Nuriyatus Zahrah dari Kalimantan.
——
Tri Mulyani
Boyolali, 4 Maret 2025
4 Ramadan 1446

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *